And I'd give up forever to touch you,
Cause I know that you feel me somehow.
You're the closest to heaven that I'll ever be,
And I don't want to go home right now.

And all I can taste is this moment,
And all I can breathe is your life,
And sooner or later it's over,
I just don't want to miss you tonight.

And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.

And you cant fight the tears that ain't coming,
Or the moment of the truth in your lies.
When everything feels like the movies,
Yeah you bleed just to know you're alive.

And I don't want the world to see me,
'Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.

And I don't want the world to see me,
Cause I don't think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.

And I don't want the world to see me,
Cause I dont think that they'd understand.
When everything's made to be broken,
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.
I just want you to know who I am.

What's the difference?

You may say, love has no different. in every things. tapi terkadang, masalah yang paling utama dalam menjalin hubungan dengan seseorang adalah masalah agama. gue, yang emang dasarnya ngga ngerti selalu mikir, "lho? emang kenapa ngga boleh ya? dosa? tapi ini kan masalah perasaan, ngga bisa dipaksain." and yes, itu dosa.
di sekitar gue, banyak banget yang menjalin hubungan dengan orang yang beda agama. dan akhirnya? mereka 'terpaksa' harus putus di tengah jalan. siapa yang mau disalahin? si cowok atau si cewek? atau.. Tuhan?
Tuhan yang ngasih kita perasaan. untuk mencintai, menyayangi, mengharga, dsb. tapi yang masih membingungkan gue hingga saat ini, untuk apa perasaan itu kalau ternyata rasa kita harus dibatasi hanya karna soal keyakinan? kalau kedua belah pihak bisa mengerti satu sama lain, then everything will be alright, wont it? tapi sekali lagi, ini semua masalah pribadi kita dengan Tuhan. dengan apa yang kita yakini dan jalani selama ini. dan sampai saat ini, belum ada yang bisa disalahkan.

Aku untuk kamu, kamu untuk aku.
Namun semua, apa mungkin? Iman kita yang berbeda.
Tuhan memang satu, kita yang tak sama.

Where Did You Go When I Need You The Most?





Why does it have to be Use Somebody?
Why does it have to be UI?
Why does it have to be Iguana Band?
Why doest it have to be You?
Why does it have to be US?

"Kamu bisa main gitar, suka sushi, suka hujan, dan yang terakhir, bisa suka sama aku..."

"Ayo move on! Lo pasti bisa!"

Itu kalimat yang biasa dilontarkan dari sahabat/temen-temen lo ketika lo putus atau patah hati. Emang, enak banget yang ngomong tinggal nyuruh move on, nyuruh kita lupa gitu aja sama semuanya. Tapi, kita yang ngerasain. Kita yang berusaha untuk move on. Kita juga yang ngerasa sakitnya, nyeseknya. Moving on isn't that easy.

Jujur, gue baru ngerasain hal itu 2.5 bulan belakangan ini. Sama orang yang 'satu itu'. I've been trying to forget him since 1.5 months ago, but it doesn't work at all. Gue udah menghapus semuanya. Emang, ngga 100% juga gue hapus tapi gue sudah berusaha. At least, gue berhasil menghapus semua sms-nya yang walaupun gue sendiri ngga rela. Tapi, ya, masih aja ujung-ujungnya kangen, nyesel, dan lain-lain.

Karna alasan itu juga, sekarang gue agak kurang berani nyuruh orang untuk move on. Karna gue tau sendiri, hal itu susah banget untuk direalisasikan.

And it happened to my friend, Chatarina Adhelisa.

Akhir bulan April, dia putus sama cowoknya (anak Krida). Gue excited banget waktu dia putus, karna gue bener-bener mau ngenalin Icha sama yang namanya Ghellar (alumni sekolah gue). Gue tau Ghellar dari pensi sekolah gue, Crevolution II. Waktu itu, dia tiba-tiba manggil gue, dan dengan PD-nya nanya: "Eh lo kenal gue ngga?" Ya jelas gue ngga kenal, gue aja baru masuk sekolah itu. Dan gue pikir, Icha pasti suka sama Ghellar.

Awal Mei, Icha ngeadd Facebook Ghellar. Mereka berdua wall-wall an. Gue seneng banget dong, karna gue emang semangat banget tentang mereka berdua. Waktu itu, Icha nanya ke Ghellar. Yang intinya:

Icha: Lar, lo ke Labspro ngga?
Ghellar: Iya cha, lo?
Icha: Gue kayaknya iya deh, lo sama siapa aja?
Ghellar: Sama temen-temen gue, lo sama siapa aja?
Icha: Kayaknya sama Tiara deh, kalo jadi, ketemuan yuk Lar!

(8 Mei 2010)
Tadinya, Icha sempet ngga jadi ikut ke Labsproject karna dia agak males katanya dan takut ngga ketemu Ghellar disana karna, mereka berdua bahkan tidak mempunya nomor masing-masing. Bingung dong, mau ketemuannya gimana? Setelah gue paksa, akhirnya Icha mau ke Labsproject. Sampe di Senayang, jujur, gue speechless. 3 tahun gue selalu hadir ke pensi Labschool, tapi yang satu ini parah banget crowdnya.

Icha: I'm not sure I can find Ghellar here. Ini penuh banget, Tiara. Gue mau muntah liatnya.

Gue dengan sekuat tenaga berusaha ngebantu Icha nyari Ghellar. Karna, Icha itu orangnya ngga sabaran. Dia maunya cepet, jadi ya gue memang harus sabar.

Icha: Tiara, gimana ini?
Tiara: Sabar ya Cha. Coba lo sms Ndu deh, tanyain ke dia nomornya Ghellar.
Icha: *Nelfon Ndu* Ngga diangkat, Ti!
Tiara: Di sms aja, Cha.
Icha: *Sms Ndu*

(Isi Sms)

Icha: Bang Ndu, gue boleh minta nomornya Ghellar ngga? Penting banget nih.
Ndu: Ini Icha ya? Tadi Ghellar minta nomor lo.
-Icha seneng banget sampe teriak-teriak-
Icha: Terus, lo kasih nomor gue yang mana?
Ndu: Gue kasih nomor lo yang 3.
Icha: Ya ampun! Gue ngga bawa hape gue yang 3. Gue minta nomornya Ghellar ya?|
Ndu: *Nomor Ghellar*

Icha sms, ngga dibales. Ditelfon, ngga diangkat. 5 menit kemudian, ditelfon, hapenya Ghellar mati. Icha putus asa. Mulai murung.
Dan lo harus tau ini: Icha nelfon Ghellar sebanyak 67 kali (Ditambah 23 kali pake hape gue), sms Ghellar 5 kali.

Hari Minggu siang (besoknya), Ghellar baru bales smsnya Icha. Mulai dari situ, kisah mereka dimulai.
Mereka berdua mulai smsan. Mulai ngomongin kesukaan masing-masing. Ngomongin semuanya. Gue selalu mengkontrol kegiatan mereka berdua (Emang, kepo banget gue). Gue seneng banget karna mereka bisa lanjut. Obrolan mereka semakin serius. Icha jarang banget bisa betah pdkt sebulan lebih. Gue tau, Icha paling ngga awet masalah pacaran, apalagi pdkt. Biasanya, kalau si cowok kelamaan, pasti udah ditinggal aja sama Icha. Tapi, yang ini beda. Kalau gue bilang "Sabar cha, semua butuh proses." Dia nurut, walaupun tetep ngeluh. Tapi kenyataannya, dia tetep ngejalanin. Dia tetep nungguin Ghellar. Dia ngga pernah kaya begini ke cowok-cowok yang pernah deket sama dia. Padahal, kalau masalah ganteng sih, Ghellar biasa aja. Kalau kata Icha: "Yang suka bikin gue sedih tuh, omongan dia tulus semua, Ti. Ngga mengharapkan balasan apapun."
Bener. Yang gue liat, Ghellar emang baik banget sama Icha. Dia menghormati Icha banget walaupun dia alumni sekolah gue, dimana Icha terhitung sebagai Juniornya. Tapi dia ngga ngebeda-bedain.
Hari Jumat malam kemarin, akhirnya, mereka berdua jadian. Gue seneng. Seneng yang bener-bener ngga bisa diungkapin. Mereka berdua keliatan baik-baik aja, bahagia, layaknya pasangan baru jadian.

Tapi....
Waktu hari Senin, Icha main ke rumah gue. Seperti biasa, kalau dia ke rumah gue, pasti pulangnya dianter Ghellar.
Malemnya, gue smsan samaa Icha. Tiba-tiba Icha sms:

Icha: TIARA GUE MAU NANGIS, NGGA KUAT :'(
Tiara: Kenapa cha?
Icha: Ghellar mutusin gue.

Tanpa mikir, gue langsung nelfon Icha.

Tiara: Cha, serius?
Icha: Iya Ti, mau gimana lagi. Udah ya, gue lagi di dokter nanti gue kabarin lagi. Bye.

Gue tau banget Icha. Pasti dia stress. Pasti dia ngga tau mau ngapain lagi. Pasti dia ngga tau mikir apaan lagi. Ghellar mutusin dia tanpa sebab. Ribet, katanya. Alasan lain, belum bisa dijelaskan.

Hari Selasa, gue ke ruangan ujiannya Icha. Dia duduk. Sambil nunduk. Earphone nempel di kuping. Baca buku Ekonomi. Mata berair+merah.
Kadang baca Ekonomi, tapi kadang buka-buka sms dari Ghellar. Ngeliat fotonya, dan..... Semuanya dia hapus. Pas gue liat, lagu apa yang dia dengerin, ternyata lagunya Coldplay - Fix You.
Hampir semuanya dihapus. Hampir.

Icha:

"Ya ampun! Ko gue jadi suka lagi Rock gini sih? Haha. Emang ya, kalau cowok yang kita suka selera musiknya Rock, pasti kita ikutan suka deh."
"Aduh Ti, si Ghellar lucu banget deh."
"Ghellar tuh oon banget deh ti"
"Ti, cuma karna sms ini, gue ngga jadi tidur." (Ghellar: Sini dicium dulu jidatnya.)
"Semua yang dia omongin itu tulus, Ti. Ngga mengharapkan balasan apapun."
"Gue mau dipeluk ti. Gue kangen Ghellar."

Akibat yang disebabkan:

Tiara: Icha jadi ke rumah Nindar?
Icha: Engga. Sekarang di Jogging Track Persada.
Tiara: Ngapain?
Icha: Duduk aja.
Tiara: Icha mendingan pulang ya, tidur. Daripada sendirian.

-setengah jam kemudian-

Tiara: Masih di Jogging Track?
Icha: Ngga. Di Rumah Sakit, tapi udah mau pulang.
Tiara: Oh, sama Bunda?
Icha: Ngga tau, tadi tiba-tiba ada di Rumah Sakit, sendirian.

Icha bener-bener ngga tau dia ke Rumah Sakit naik apaan, sama siapa. Dan dia juga ngga tau kenapa dia bisa ada dirumah. Karna, sore-sore ada Satpam Rumah Sakit yang dateng ke rumahnya dan ngomong Udah ngga papa kan? Tadi saya yang nganterin mbak pulang. Icha cuma bengong, dan bilang terima kasih karna dia bener-bener ngga tau apapun.

Dan Ghellar jadi lebih perhatian semenjak dia mutusin Icha. Disitu bagian brengseknya. Tapi, anehnya, Icha ngga mau nyalahin Ghellar atas apapun.




Ko gue jadi nyeritain kisah orang ya? Hehe. Gue sedih banget soalnya mereka putus. Gue seneng banget kalau mereka berdua. Icha jadi serem. Tingkahnya aneh. Ghellarnya juga ngga jelas. Anyway, ada 2 foto (cowok-cewek) di posting sebelumnya, itu mereka berdua.



It's special, honey. It's not the same like the previous one. It's totally different.